tentang.co.id – Selama ini, komunitas atau gerakan kesetaraan untuk penyandang disabilitas kerap menemui tantangan untuk mendapatkan tempat berkumpul yang aman, ramah disabilitas dan memiliki fasilitas lengkap.

Oleh karena itu, kontribusi pihak swasta seperti Grab Indonesia, diharapkan dapat membantu mendukung terciptanya lingkungan yang setara bagi para penyandang disabilitas di Indonesia.

Ruangan beroperasi Senin hingga Jumat pukul 08:00 – 17:00 WIB, namun saat ini masih dalam tahap uji coba sehingga baru bisa dipergunakan oleh komunitas-komunitas yang teraliasi dengan asosiasi yang yang telah bekerja sama dengan Grab Indonesia, seperti GERKATIN, HWDI dan Pusbisindo.

Di pertengahan Oktober 2022, Ruang SETARA dapat digunakan oleh komunitas penyandang disabilitas lainnya sesuai dengan prosedur yang akan ditetapkan oleh Grab Indonesia.

Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi mengungkapkan bahwa inisiatif PercayaSETARA merupakan salah satu bentuk perwujudan komitmen Grab untuk mendorong pemberdayaan penyandang disabilitas di Indonesia.

“Penyandang disabilitas merupakan bagian dari masyarakat yang kerap tidak mendapatkan peluang setara, padahal memiliki kemampuan dan potensi yang sama besar. Atas dasar itu, Grab terus berupaya untuk berjalan beriringan dengan asosiasi penyandang disabilitas tanah air untuk membantu mendorong lingkungan yang lebih ramah disabilitas,” katanya mengutip keterangan tertulis.

Tak berhenti di peresmian Ruang SETARA, inistiatif PercayaSETARA juga memiliki dua fokus utama lainnya yaitu, mempermudah akses mendapatkan pendapatan bagi penyandang disabilitas dan melakukan kampanye edukasi menuju masyarakat ramah disabilitas.

Untuk mempromosikan pengetahuan budaya ramah disabilitas, ribuan karyawan Grab dan OVO di seluruh Indonesia wajib mengikuti training online. Selama 3 bulan terakhir, pelatihan oine yang diikuti total ratusan karyawan untuk mengedepankan inklusivitas juga telah dan akan terus dilakukan di berbagai wilayah Indonesia. Karyawan mendapatkan pelatihan terkait dengan budaya inklusivitas, dimana termasuk di dalamnya memahami apa yang harus dilakukan saat berinteraksi dengan teman-teman penyandang disabilitas, mulai dari tunarungu, tunadaksa dan lainnya.