tentang.co.idPasar saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan sesi awal hari Selasa (27/9/2022) pagi waktu New York, indeks berusaha pulih dari level terendahnya meskipun jurang resesi begitu nyata terlihat.

Dow Jones Industrial Average naik 182,28 poin, atau 0,62% pada sesi awal perdagangan. Sedangkan dua indeks utama Wall Street lain yakni S&P 500 dan Nasdaq masing masing melesat 1,02% dan 1,41%.

Menghijaunya Wall Street pada pembukaan perdagangan terjadi di tengah penantian investor terhadap rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) AS untuk periode September 2022, data pesanan barang tahan lama, dan harga rumah AS.

Wall Street sebenarnya semakin khawatir bahwa pertarungan inflasi Fed selama enam bulan akan mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Aksi jual baru-baru ini tampaknya menjadi katalis, termasuk bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang agresif untuk menaikkan suku bunga. Akhirnya mengguncang pasar mata uang. Pada Senin (26/9), nilai tukar poundsterling merosot ke rekor terendah terhadap dolar AS, membuat investor cemas.

“Biasanya, investor AS tidak akan terlalu peduli dengan hal seperti itu. Menurut saya bahwa sekarang ada ketakutan yang mencengkeram investor lebih banyak daripada sebelumnya, dan pada akhirnya akan mengarah pada momen kapitulasi, di mana kita benar-benar berada di bawah,” tutur Analis AlphaTrAI Max Gokhman yang dikutip dari CNBC International.

Pound Inggris sedikit rebound setelah jatuh ke rekor terendah terhadap dolar awal pekan ini. Sterling diperdagangkan lebih dari 1% lebih tinggi US$ 1,087 per dolar setelah mencapai titik terendah sepanjang masa di US$ 1,0382.

Imbal hasil Treasury juga turun dari level tertingginya, meningkatkan sentimen. Hasil benchmark 10-tahun turun hampir 5 basis poin menjadi 3,82%.

Presiden Federal Reserve Chicago Charles Evans mengisyaratkan beberapa kekhawatiran tentang bank sentral The Fed yang menaikkan suku terlalu cepat untuk melawan inflasi.

Ditambah lagi, proyeksi dan arah suku bunga ke depan yang dirilis oleh Komite Pengambil Kebijakan (FOMC). Dalam proyeksinya, FFR bisa sampai 4,4% akhir tahun ini. Apabila menganut proyeksi tersebut berarti dalam dua pertemuan terakhir, Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan di bawah 50 bp.

Bahkan ketika pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga acuan tahun depan, proyeksi FOMC justru sebaliknya. Tahun depan mereka masih berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan.

Proyeksi tersebut yang akhirnya membuat pasar keuangan global kembali dilanda dengan koreksi dalam beberapa hari terakhir.

“Biasanya, investor AS tidak akan terlalu peduli dengan hal seperti ini, dan terutama baru-baru ini. Dan ini bagi saya mengatakan bahwa sekarang ada ketakutan yang mencengkeram investor lebih banyak daripada sebelumnya. Itu pada gilirannya akan mengarah pada momen kapitulasi di mana kita benar-benar berada di bawah,” kata Max Gokhman, CIO di AlphaTrAI yang dikutip dari CNBC International.

TIM RISET CNBC INDOENSIA