tentang.co.idJakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara masih betah berkutat di zona merah. Pada perdagangan Senin (12/9/2022), harga batu kontrak Oktober di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 427,5 per ton. Harganya melandai 0,72% dibandingkan hari sebelumnya.

Melandainya harga batu bara semakin memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung sejak Selasa pekan lalu atau dalam lima hari perdagangan terakhir.

Dalam sepekan, harga batu bara sudah ambruk 7,8% secara point to point. Dalam sebulan, harga batu bara masih menguat 6,1% sementara dalam setahun melesat 138,6%.

Terus melandainya harga batu bara tidak bisa terpisahkan dari anjloknya harga gas. Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) kemarin tercatat 190,59 euro per megawatt-jam (MWH). Harga tersebut ambruk 22,5% dalam sepekan dan merupakan level terendah dalam sebulan.

Melemahnya gas alam Eropa ikut menyeret harga batu bara karena batu bara merupakan sumber energi alternatif bagi gas.

Harga gas terus turun sejak akhir pekan lalu setelah menteri-menteri negara Uni Eropa sepakat untuk mempercepat rumusan kebijakan untuk menurunkan harga gas. Di antaranya adalah dengan mengurangi pemakaian gas, pembatasan harga gas impor, serta penambahan likuiditas di pasar energi.

Dilansir dari Bloomberg, Goldman Sachs Group Inc memperkirakan harga gas akan berada di bawah 100 euro per MWH pada Januari-Maret 2023, setengah dari harga sekarang.

Gas berkontribusi terhadap 20% pasokan listrik Eropa. Besarnya kontribusi itulah yang membuat Eropa langsung ketar-ketir saat Rusia memangkas pasokan gas. Terlebih, mereka tengah berupaya mempercepat pasokan sebelum musim dingin datang.

Storage gas di Eropa kini sudah mencapai 84%, Kapasitas tersebut 5% lebih tinggi dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir pada periode yang sama.

Goldman Sachs memperkirakan level persediaan gas batu bara Eropa masih akan tersisa 20% dari kapasitas pada Maret tahun depan meskipun ada kenaikan penggunaan selama musim dingin.

“Harga akan terus turun sejalan dengan berkuranganya kekhawatiran mengenai pasokan dan seiring berlalunya musim dingin,” tutur analis Goldman Sachs Samantha Dart, kepada Bloomberg.

Menurunnya harga batu bara juga disebabkan masih loyonya ekonomi China. China merupakan konsumen terbesar batu bara sehingga pelemahan permintaan dari Negara Tirai Bambu akan sangat menentukan harga batu bara.

Dilansir dari Reuters, impor batu bara China pada Januari-Agustus 2022 melemah 14,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laporan S&P Global Commodity Insights juga menunjukkan produksi listrik dari pembangkit listrik batu bara di China turun 1,2% pada semester I-2022.

TIM RISET CNBC INDONESIA