tentang.co.id – Sedari kecil orangtua maupun guru sudah mengajari pentingnya menolong orang lain yang membutuhkan.

Tapi, kalau bantuan yang diberikan selalu merugikan diri sendiri, kondisi ini bisa memicu super helper syndrome. Sindrom apa lagi itu?

Menurut psikolog Jess Baker dan Rod Vincent, super helper syndrome adalah dorongan berlebihan untuk menolong/ membantu orang lain.

Sayangnya, mereka yang memberikan pertolongan justru tidak mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.

“Kami mengeksplorasi keyakinan mendasar yang mengarah pada semua ini (super helper syndrome),” kata Baker dan Vincent.

Tanda-tanda super helper syndrome

Sindrom ini bisa menyebabkan kerugian dari waktu ke waktu.

Namun, tanda-tanda super helper syndrome jarang disadari.

Supaya orang-orang bisa mengidentifikasi apakah mereka mengidap super helper syndrome atau tidak, Baker dan Vincent membeberkan tanda-tandanya.

Simak yang berikut ini.

  • Memberikan bantuan dalam semua aspek kehidupan , mulai dari pekerjaan, keluarga, urusan pertemanan, tetangga, dan sebagainya
  • Kesulitan menolak memberikan bantuan
  • Sering membantu orang lain , tapi orang yang dibantu tidak memberikan bantuan kembali
  • Perhatian dengan orang lain. Tetapi, orang yang dibantu tidak tertarik dengan masalah orang yang membantu
  • Menempatkan kebutuhan orang lain di atas diri sendiri
  • Mudah terlibat drama dan terus-menerus memberikan saran untuk memperbaiki orang lain
  • Selalu menjadi tujuan curhat pertama dari orang lain ketika mereka mengalami kesulitan
  • Orang lain langsung terbuka -meski baru ketemu pertama kali- dan membongkar rahasia mereka
  • Merasa bersalah jika tidak membantu.

Dampak buruk super helper syndrome

Memberikan bantuan merupakan amalan baik dalam hidup.

Tapi, saat super helper syndrome melanda, ada berbagai dampak buruk yang dihasilkan.

“Jika Anda rentan terhadap super helper syndrome, kemungkinan besar kamu akan mengalami satu atau lebih dari empat dampak buruk,” ujar Baker dan Vincent.

Berikut dampak buruk dari super helper syndrome.

1. Kelelahan

Tidak hanya pekerjaan dan masalah pelik yang membuat kelelahan , super helper syndrome juga demikian.

“Apakah kamu lelah sepanjang waktu? Apakah Anda tidak punya waktu untuk diri sendiri. Apakah tidur kamu terganggu,” tutur Baker dan Vincent.

“Apakah kamu menderita ketegangan otot atau sakit kepala? Apakah kamu merasa mudah tersinggung atau hanya terbebani?” sambung mereka.

2. Kebencian

Kebencian bisa merambat ke seluruh hubungan, mengganggu, bahkan menimbulkan kekacauan.

“Sangat mudah untuk mengatakan tidak menginginkan imbalan apa pun tapi kenyataannya sulit jika tidak diberi imbalan,” kata Baker dan Vincent.

“Ini terus berjalan tanpa batas apabila kamu tidak mendapatkan sedikit imbalan. Setidaknya pantas mendapatkan terima kasih dan diakui,” sambung mereka.

3. Dieksploitasi

Tidak dihargai saja sudah menyakitkan, apalagi jika niat baik untuk membantu malah dieskploitasi oleh orang lain.

“Jika kamu tidak pernah mengungkapkan kebutuhan apa pun, maka orang lain mudah menganggapmu tidak memilikinya dan memanfaatkan bantuanmu,” ungkap Baker dan Vincent.

“Itulah mengapa penting untuk mencermati apakah beberapa orang yang kamu bantu mengeksploitasi kamu.”

“Apakah mereka benar-benar membutuhkan bantuan? Apakah mereka membutuhkan bantuan kamu?” lanjut keduanya.

4. Mengkritik diri sendiri

Meski menempatkan diri sendiri sebagai penolong , orang yang memberikan bantuan bisa mengkritik dirinya sendiri.

Perasaan untuk mengkritik diri sendiri muncul ketika mereka merasa tidak cukup membantu.

“Apakah kamu mengkritik diri sendiri karena mengalami tiga dampak buruk lainnya dari sindrom ini karena merasa lelah, kesal, atau dieksploitasi?” kata Baker dan Vincent.

Cara sembuh dari super helper syndrome

Segala sesuatu yang berlebihan tidak baik dalam kehidupan, termasuk “kecanduan” membantu orang lain.

Baker dan Vincent menyampaikan, super helper syndrome bisa disembuhkan apabila orang-orang yang mengalaminya memahami akar masalahnya.

Langkah selanjutnya yang dapat mereka lakukan adalah melupakan dorongan membantu yang sudah tertanam dalam pola pikir.

Yang tidak kalah pentingnya adalah belajar mengatakan “tidak” dan tidak memikirkan kesenangan orang lain.

Di samping itu, belajarlah untuk tidak menggantungkan nilai diri sendiri berdasar bantuan yang diberikan kepada orang lain.