tentang.co.id – Belakangan ini fenomena selingkuh tengah naik daun dan terjadi di berbagai kalangan.

Mulai dari publik figur, politikus, hingga orang biasa tak luput dari skandal perselingkuhan.

Meski kebanyakan orang sudah tahu dampak buruk dari perselingkuhan, nyatanya masih saja banyak orang yang melakukannya.

Namun usut punya usut, faktor seseorang memutuskan untuk selingkuh ternyata bisa dijelaskan secara ilmiah menurut.

Lalu, apa sebenarnya penyebab seseorang memilih untuk selingkuh dari pasangannya?

Berikut beberapa alasan seseorang selingkuh seperti yang sudah Pikiran-Rakyat.com rangkum untuk Anda.

Pembohong

Seseorang yang selingkuh biasanya seorang yang ahli berbohong, tidak hanya menipu pasangannya seorang peselingkuh juga pandai menipu orang-orang sekitar.

Korban Trauma

Beberapa orang, terutama orang-orang dengan riwayat trauma atau pelecehan, mengalami kesulitan untuk membuka diri.

Karena adanya rasa trauma yang belum sembuh, peselingkuh biasanya memilih untuk lebih dulu mengkhianati pasangannya sebelum dikhianati agar tak merasakan trauma lagi.

Tak Percaya Diri

Dikutip dari situs Scirntificamerikan, orang-orang yang berselingkuh biasanya memiliki daya pikir yang mudah terseinggung.

Tak cuma itu, peselingkuh juga biasanya datang dari sosok-sosok yang tak percaya diri.

Tidak Pandai Berkonfrontasi

Orang-orang yang sering selingkuh disebut sebagai orang yang takut menghadapi konflik.

Dalam beberapa kasus, peselingkih merasa ogah mengakhiri hubungannya dengan pasangan sah karena alasan logistik seperti uang, anak-anak, gaya hidup.

Joshua Klapow menjelaskan bahwa kadang-kadang orang-orang selingkuh untuk menjaga hubungan tetap bersama, mereka menyukai hal-hal tentang pasangan mereka, tetapi ada aspek lain yang tidak ada di sana.

Psikopat

Dari sebuah penelitian, orang-orang dengan tipe kepribadian Dark Triad atau orang yang memiliki kecenderungan dalam penyakit mental lebih cenderung tidak setia.

Terlalu Banyak Bermain Medsos

Sebuah studi tahun 2014 menemukan bahwa penggunaan media sosial yang lebih tinggi, khususnya Twitter, dikaitkan dengan hasil hubungan negatif, termasuk perselingkuhan dan bahkan perceraian.***