tentang.co.idJakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah warga di Canggu, Bali, membuat petisi yang memprotes suara bising dari klub malam di wilayah yang menjadi favorit banyak turis asing tersebut. Terkait hal ini, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, mengingatkan bahwa pelaksanaan pariwisata harus menyesuaikan dengan aturan lokal yang berlaku.

“Hormatilah masyarakat sekitar agar mereka bisa istirahat. Aparat kita harapkan menindak tegas untuk menjaga harmonisasi alam, budaya, dan manusia di Bali,” kata Sandi, dalam acara weekly briefing, Senin (12/9/2022).

“Ayo junjung tinggi adat istiadat dan norma yang berlaku sehingga kita bisa mempertahankan predikat Bali sebagai destinasi paling bahagia di dunia,” ujarnya lagi.

Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ada sekitar 13.000 wisatawan yang masuk kategori digital nomad sepanjang Januari-Agustus 2022. Canggu adalah destinasi utama para digital nomad tersebut, kemudian diikuti Jimbaran dan Uluwatu.

Adapun turis digital nomad paling banyak berasal dari Rusia, Inggris, dan Jerman.

Sandiaga menyebut, pemerintah telah memfasilitasi visa tujuan wisata budaya yang memungkinkan turis datang untuk menjadi digital nomad, di mana mereka bisa bekerja secara remote sambil berwisata di Indonesia. Visa tersebut berlaku untuk seluruh kewarganegaraan dan bisa diperpanjang hingga 6 bulan.

Meski demikian, kemudahan itu ternyata memunculkan masalah baru, yakni polusi suara. Seperti diketahui, Canggu merupakan ‘surga baru’ bagi para digital nomad di Bali. Di kawasan tersebut juga banyak dibangun cafe dan klub malam yang ramai didatangi turis.

Namun, ada harga yang dibayar untuk pesta turis di Canggu. Masyarakat harus menahan suara bising dari klub malam hampir setiap malam dan berlangsung hingga pagi.

Karena itu, belum lama ini, petisi berjudul ‘Basmi Polusi Suara di Canggu’ muncul.

“Saya menandatangani petisi ini karena sangat keberatan dg gangguan suara dan kemacetan canggu dg adanya new beach club,” tulis seorang netizen.