tentang.co.id – Di tengah babak baru perang Rusia di Ukraina , Eropa dikejutkan dengan temuan kebocoran dua pipa gas di bawah Laut Baltik.

Eropa sudah didera krisis energi sejak awal bertabuhnya genderang perang di Ukraina pada Februari 2022 lalu, termasuk penyediaan gas yang bergantung pada pasokan dari Rusia .

Eropa , setelah temuan kebocoran dua pipa gas Rusia , berupaya menyelidiki kemungkinan terjadinya sabotase.

Perdana Menteri Polandia, Mateusz Morawiecki adalah orang yang pertama kali mengungkapkan teori sabotase sebagai penyebab kebocoran pipa gas Rusia itu.

“Hari ini kami menghadapi tindakan sabotase, kami tidak tahu semua detail tentang apa yang terjadi,” kata Mateusz Morawiecki dalam pernyataan terbarunya.

“Kami melihat dengan jelas bahwa itu adalah tindakan sabotase, terkait dengan langkah selanjutnya dari eskalasi situasi di Ukraina ,” katanya menambahkan.

Kini, menyusul temuan kebocoran dua pipa gas Rusia , Nord Stream 1 dan 2, berdampak pada Denmark yang membatasi pengiriman dan memberlakukan zona larangan terbang skala kecil.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen juga memiliki dugaan yang sama tentang sabotase sebagai penyebab kebocoran itu.

“Kita berbicara tentang tiga kebocoran dengan jarak di antara mereka, dan itulah sulit untuk membayangkan sebagai suatu kebetulan,” kata Frederiksen mengungkapkan, dikutip dari Reuters.

Sedangkan, Rusia memilih mengatakan dampak dari kebocoran pipa gas .

Disebutkan, tidak ada harapan untuk Eropa menerima pasokan gas sebelum musim dingin.

Artinya, rangkaian pipa gas Rusia tidak akan beroperasi setelah temuan kebocoran itu.

“Kehancuran yang terjadi bersamaan pada tiga rangkaian pipa gas lepas pantai dari sistem Nord Stream belum pernah terjadi sebelumnya,” kata operator jaringan Nord Stream AG.***