tentang.co.id – Penduduk China di wilayah Xijiang kini kekurangan makanan dan barang-barang penting. Ini terjadi akibat penguncian (lockdown) yang dilakukan pemerintah.

Akibat mewabahnya Covid-19, Xinjiang sudah dikunci 15 hari. Puluhan juta orang di 30 wilayah telah diperintahkan untuk tinggal di rumah.

“Sudah 15 hari, kami kehabisan tepung, beras, dan telur,” kata salah seorang warga, dikutip BBC, Senin (12/9/2022).

“Dari beberapa hari yang lalu, kami kehabisan susu untuk anak-anak,” tambahnya.

Di wilayah otonomi Ili Kazakh misalnya, warga yang putus asa meminta bantuan ke media sosial. Salah satunya seorang pria Uyghur.

Ia meneriakkan bagaimana ketiga anaknya belum makan tiga hari. Di Yining, itu kota Ili, sebuah dokumen online bersama dengan lebih dari 300 permintaan mendesak untuk makanan, obat-obatan, dan pembalut beredar luas.

“Saya kehabisan uang untuk membeli perbekalan. Istri saya hamil dan kami punya dua anak. Kami kehabisan bensin. Istri saya perlu cek kesehatan,” kata warga lainnya di wilayah perbatasan Kazakhstan itu.

Xinjiang sendiri adalah wilayah di mana minoritas Muslim China, Uyghur, tinggal. Di wilayah ini ada pula suku Han dan Kazakh.

Sebelumnya, PBB sempat membuat laporan soal Xinjiang. Di mana China disebut telah melakukan “pelanggaran hak asasi manusia yang serius” terhadap Uyghur dan minoritas Muslim di wilayah itu.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa lebih dari satu juta orang Uyghur telah ditahan di luar kehendak mereka. Beijing mengatakan jaringan China menggunakan alasan “memerangi terorisme” sebagai kampanyenya.

Sementara itu, di provinsi Guizhou barat daya, pihak berwenang mengunci area ibu kota Provinsi Guiyang. Ini dilakukan tanpa peringatan sebelumnya, sehingga membuat 500.000 penduduk terdampar di rumah tanpa ada kesempatan untuk bersiap.

Mengutip media Inggris The Guardian, lift dimatikan di gedung-gedung untuk menghentikan orang pergi. Warga juga tak bisa membeli barang online.

“Kami tidak bisa membeli barang secara online karena tidak bisa dikirim dan supermarket tutup,” kata seorang warga.

“Apakah pemerintah memperlakukan kami seperti binatang, atau mereka hanya ingin kami mati?” tanya salah satu pengguna di platform microblogging Weibo.

China hingga kini juga masih mengunci ibu kota Provinsi Sichuan, Chengdu. Ini adalah yang terbesar setelah Shangai, dua bulan lalu.

Sebanyak 21 juta orangnya telah dilarang memasuki atau meninggalkan kota. Mereka harus menunjukkan bukti tes Covid negatif untuk diizinkan membeli kebutuhan.

Kota itu makin menderita kala gelombang panas dan gempa bumi menyerang awal bulan ini. Pejabat kota mengatakan mereka berencana untuk mencabut pembatasan di lima wilayah pekan ini.

Sementara itu di Beijing, kasus Covid-19 terdeteksi di sejumlah kampus-kampus. China sendiri mencatat 226 kasus baru hari ini, yang menjadikan total kasus aktif 5.651 orang.