Belasan batu granit sebesar tubuh bayi ditata menyebar, membentuk lingkaran berdiameter dua meter. Penataan itu mirip situs purbakala yang masih terbengkalai. Kemudian, satu setengah meter di atas serakan batu, benang merah direntangkan ke beberapa sudut.

DI TENGAH pertemuan rentangan benang terdapat batu pipih yang terikat benang, di atasnya disusun beberapa batu kecil dengan seimbang. Gambaran setting di atas terletak di tepi kolam yang sudah tak berair. Sementara para penonton bebas menempatkan dirinya; ada yang duduk di samping kiri-kanan setting dan ada yang duduk di sebuah stage di tengah kolam.

Malam itu di Ong Art Centre (OAC), Nitiprayan, Jogja, pada 5 Juli, tepat pukul 20.00 WIB pertunjukan dimulai dengan suara dentuman batu yang dijatuhkan sang aktor, Hendra Setiawan. Para penonton yang kurang dari 50 orang tampak kaget dan bertanya-tanya. Berkali-kali suara dentuman berbunyi seperti teror-teror kecil yang mengganggu kesunyian malam itu. Sang aktor berjalan menuju serakan batu-batu sambil menjatuhkan batu dengan wajah dan tubuh yang tegang. Perlahan kakinya menapak di atas batu-batu. Ia berjalan tenang sambil menjaga keseimbangan tubuhnya. Langkahnya semakin cepat, lalu lari berputar di atas batu-batu dengan lincahnya, terkadang menjatuhkan tubuhnya dengan tangan yang masih bertumpu pada batu. Tubuhnya berguncang-guncang lantaran efek gerak batu yang dipegang dan diinjaknya.

Satu per satu batu diangkat, lalu disusun menggunung, sang aktor mengangkatnya sambil menyanyikan sebuah lagu yang syairnya diambil dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Lagu yang menggambarkan peristiwa gempa bumi. Pada titik ini suasana berubah menjadi sakral. Penonton diajak masuk dalam suasana lampau ketika masyarakat tengah merenungi kondisi alam sebagai ruang hidupnya. Pertunjukan diakhiri dengan jatuhnya susunan batu pipih yang berada di atas karena sentuhan kepala. Disusul sang aktor merobohkan batu yang ia susun sendiri dengan menarik rantai besi yang mengikat salah satu batu di tengah tumpukan batu.

Narasi dan Sejarah Penciptaan

Pertunjukan monolog Digoyang dari Bawah karya Hendra Setiawan hampir tak ada dialog verbal sebagai media komunikasi. Gerak dan gestur tubuh adalah media untuk menyusun alur pertunjukan. Tak ada sinopsis cerita, tetapi muncul narasi kecil yang tertulis dalam buklet:

Sementara manusia terus berusaha mencari dan menjaga keseimbangan dalam kehidupannya, segala yang terbangun dan diciptakan akan runtuh pada masanya.

Satu-satunya kalimat yang diucapkan aktor adalah sebuah lagu: Epu weo, epu weo, kami zatu… kami zatu, banga sodho tipu, banga tipu. (Kami ada, kami ada, kumbang besar tipu, dia tipu). Kalimat tersebut diucapkan masyarakat desa di NTT ketika terjadi gempa. Kutipan lagu ini mengandung pesan moral lewat pemakaian simbol kumbang besar yang mengungkapkan hubungan manusia dan alam sekitar harus harmonis.

Hendra, aktor muda dari Jakarta, berdarah Jogja dari sang ibu, mengawali proses penciptaan kali ini lewat ketertarikannya dengan peristiwa alam gempa bumi yang mengingatkannya tentang kekuatan lain di luar diri manusia. Peristiwa itu menginspirasinya ditambah saat mengalami beberapa kejadian gempa bumi yang terasa sampai di Jakarta tempat ia tinggal, pada bulan Januari 2022 lalu, terjadinya gempa di Banten. Dari situ ia mulai riset lebih jauh perihal terjadinya gempa. Hendra menggunakan proses terjadinya gempa dan reruntuhan sebagai inspirasi untuk membangun struktur pertunjukan yang berskala kecil.

Pementasan ini masuk dalam program OAC yang bertajuk Di Sini Seni di Sana Seni. Program ini mewadahi berbagai macam seni seperti teater, tari, performance art, sastra, pantomim, musik, dan rupa. Di sini para seniman tak sekadar presentasi karya, tetapi juga terjadi sharing gagasan yang diarahkan untuk pertumbuhan karya dan menjadi pengetahuan bersama.

MEMBAWA PESAN: Aktor Hendra Setiawan melakukan pentas monolg berjudul Digoyang dari Bawah di Ong Art Centre bulan lalu. (GHIFARI ALFIAN UNTUK JAWA POS)

Suara Penonton

Pertunjukan yang berdurasi 45 menit tersebut berjalan dengan ritme lamban, tetapi kadang mengejutkan, sebab aktor tiba-tiba bergerak, berlari cepat, dan terjatuh. Sedari awal hingga akhir penonton tampak serius, tak ada gelak tawa atau senyum kecil yang muncul. Semua diam seperti tengah merenungi hidup masing-masing. Struktur pertunjukan dibangun bukan dengan gaya Aristotelian yang berangkat dari pengenalan, permasalahan, konflik, hingga penyelesaian. Namun, dengan ritme gerak atau emosi yang tak terduga, penonton diajak mengikuti tangga dramatik yang tidak linear, tangga dramatik yang bergoyang ke sana kemari. Kadang muncul impresi sunyi, mengejutkan, bosan, tegang, serius, dan impresi yang terasa asing sulit dipahami. Di sini aktor berperan menjadi tokoh tak dikenal.

Saat sesi diskusi, Iwan Wijono, seorang performer yang turut menonton, mengatakan bahwa pertunjukan tersebut akan lebih terkomunikasikan jika ada interaksi dengan penonton. Keluar dari batas panggung, batu-batu itu diberikan kepada penonton dan mengucapkan kata-kata yang dicita-citakan. Dua aktor muda dari Lampung, Iwan dan Alexander, menanggapi kemungkinan adanya perubahan struktur pementasan jika ada penonton yang merespons. Sedangkan Whani Dharmawan, aktor film dan teater, mengucapkan terima kasih sebab di tengah ruwetnya kehidupan sosial, politik, dan ekonomi yang membuat masyarakat kian tereduksi pikiran juga perasaannya, Hendra justru mengajak kita merenung untuk menguatkan jiwa, hati, dan pikiran. Saat ini orang jarang yang menyadari jika tiba-tiba digoyang alam, semua akan ambruk. Orang akan mudah terpuruk dan frustrasi. Maka, bersiaplah jika terjadi bencana sewaktu-waktu. Baik bencana dalam diri maupun di luar diri. Menguatlah. (*)

ANDY SRI WAHYUDI, Penulis dan sutradara seni pertunjukan


Artikel ini bersumber dari www.jawapos.com.